1 tahun yg lalu

Studi: Lebih dari 2.000 Anak di Dunia Meninggal Dunia Akibat Polusi Udara


Liputan6.com, Jakarta - Sebuah studi dari Health Effects Institute (HEI) mengungkapkan hampir 2.000 anak dan balita meninggal setiap hari akibat polusi udara, sanitasi buruk dan kurangnya air bersih. Ini menjadi faktor risiko kesehatan terbesar kedua bagi anak-anak di seluruh dunia.

Sementara itu, lebih dari delapan juta kematian, baik anak-anak maupun orang dewasa, diakibatkan polusi yang terus memberikan dampak buruk terhadap kesehatan.

Udara kotor kini menjadi pembunuh terbesar kedua secara global, melampaui penggunaan tembakau, dan nomor dua setelah tekanan darah tinggi, sebagai faktor risiko kematian pada masyarakat umum. Di antara anak-anak balita, polusi udara menempati urutan kedua setelah kekurangan gizi sebagai faktor risiko kematian.

Dilansir The Guardian, Jumat (21/6/2024), laporan State of Global Air tahun ini, yang diterbitkan oleh HEI sejak tahun 2017, juga menunjukkan bahwa anak-anak di negara-negara miskin menderita dampak terburuk, dengan angka kematian terkait dengan polusi udara pada anak-anak di bawah umur lima tahun, 100 kali lebih tinggi di sebagian besar Afrika dibandingkan di negara-negara berpendapatan tinggi.

Pallavi Pant, penulis utama laporan ini dan kepala kesehatan global di HEI, menunjukkan kesenjangan besar yang terungkap dalam laporan tersebut.

"Terlalu banyak beban yang ditanggung oleh anak-anak, masyarakat lanjut usia, dan negara-negara berpendapatan rendah dan menengah," ujarnya.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Pengaruh Partikel PM 2.5

© Rileks 2026. Semua hak dilindungi undang-undang