6 bulan yg lalu

Katalog Impor MBG (3)


Itulah yang membuat saya mengangguk sambil tersenyum getir ketika ia hadir di DPR dalam rapat dengar pendapat soal Makan Bergizi Gratis (MBG). Seperti guru besar turun gunung, akhirnya ada yang bicara tentang politik gizi. Tapi apa yang ia ungkapkan bikin dahi mengernyit: program yang katanya dirancang untuk mencerdaskan anak bangsa, ternyata justru menjadi festival impor.

Bayangkan, mulai dari piring atau nampan tempat makannya saja harus diimpor dari China. Bahkan pernah heboh karena diduga ada kandungan babi di bahan plastiknya. Lalu, apa yang disajikan di atas piring impor itu? Hampir semuanya pun impor: beras kita masih kekurangan, garam pun ironisnya pernah impor, kedelai untuk tahu-tempe datang dari Amerika, gandum jelas bukan produk tanah air, kacang sampai susu bubuk pun bergantung pada pasar global. Negeri ini katanya subur makmur, tapi isi kotak makan anak sekolah malah seperti katalog impor.

Anak-anak diberi burger, padahal gandum tak tumbuh di negeri khatulistiwa ini. Ada spageti dan bakmi kekinian, minuman bergula dari tepung dan sirup asing, bahkan chicken katsu dengan daging impor beku. Susu pun ikut dijejalkan, padahal sejak Permenkes 2014, Indonesia sudah resmi meninggalkan dogma “empat sehat lima sempurna.” 

Apalagi secara biologis, 80 persen etnis Melayu intoleran laktosa. Hasilnya? Anak-anak malah mencret berjamaah. Itulah komedi pahit pembangunan: negara sibuk memberi gizi, tapi yang diterima justru antrean ke toilet.

Dan jangan lupa, di beberapa daerah ada laporan menu MBG berisi ayam mentah hingga belatung. Kalau sudah begini, apakah bukan lebih pantas disebut “Makan Belatung Gratis”? Slogan MBG jadi semacam satire: mau sehat malah sakit, mau cerdas malah dicekoki pangan impor yang bikin perut berontak.

Dokter Tan dengan tegas menawarkan solusi: Ganti 80 persen menu MBG dengan pangan lokal sesuai kearifan setempat. Anak Papua bisa makan ikan kuah asam, anak Jawa bisa makan sayur lodeh, anak Sulawesi bisa makan kapurung, anak Minang bisa gulai ikan. Bukankah itu jauh lebih bergizi, sekaligus jadi etalase kuliner n...

Baca Seluruh Artikel

© Rileks 2026. Semua hak dilindungi undang-undang